10 September 2009

MEMBANGKITKAN RUH PENDIDIKAN

---- Di dunia pendidikan, guru hanya sebagai “pentransfer ilmu” layaknya robot, dan siswa sebagai “penerima” layaknya robot. Interaksi guru dan siswa menjadi “mekanistik” bagai mesin ----


Zaman berkembang dengan pesat. Peradaban manusia semakin modern. Dinamika sosial ditandai dengan perubahan pola pikir konvensional ke arah paradigma baru. Mode, life style klasik berkembang dan berubah menjadi life style metropolis, seiring dengan perkembangan zaman.


Ada dampak yang paradok dari perkembangan tersebut, yakni positif dan negatif. Dampak positif perubahan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dekatnya jarak dunia yang dapat dijangkau dengan alat transportasi dan komunikasi modern, dan lain sebagainya. Namun, dampak negatif dari perubahan tersebut pun sulit dibendung. Pola pemikiran yang serba rasionalis, matrealis, agresif, dan empiris akan menjebak manusia dalam kehampaan (nihilis) dan sekuler, bahkan atheis. Efek negatif dari modernitas juga akan mendehumanisasi (objektivasi) manusia, yang ditandai dengan agresivitas (tindak kriminal baik personal maupun kolektif), loneliness (privatisasi), dan spiritual alienation.


Sejalan dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan pengembangan pendidikan yang “sesuai” dengan tuntutan perkembangan zaman, dengan mempertimbangkan aspek-aspek pengaruh positif dan negatif. Hal ini karena pendidikan sebagai bagian dari peradaban manusia, mau tidak mau pasti akan mengalami perubahan dan perkembangan.


Saat ini, tidak ada beda antara guru dan CD multimedia pembelajaran. Bahkan lebih manjur dan mengasyikkann CD pembelajaran dalam menyampaikan pelajaran dibandingkan dengan seorang guru. Sekolah-sekolah disibukkan untuk ber-ICT, bermultimedia, berinternet, dan bertaraf internasional (SBI). Sedangkan para guru direpotkan dengan sertifikasi guru, menyusun KTSP, silabus, RPP, program semester dan bahwakan demontrasi. Disisi lain dituntut mampu menghasilkan lulusan berdasarkan angka-angka yang memuaskan. Inilah mungkin yang melalaikan kita semua sebagai seorang guru yang tidak sekedar hanya mengajar (mentransfer) tetapi sekaligus mendidik.


Nilai-nilai (values) merupakan sesuatu yang sangat krusial dalam kehidupan, termasuk dalam pendidikan. Tanpa nilai-nilai (spiritual keagamaan, azas manfaat, akhlaq mulia, dan lainnya), maka manusia seolah sebagai “robot-robot” berkaki dua. Di dunia pendidikan, guru hanya sebagai “pentransfer ilmu” layaknya robot, dan siswa sebagai “penerima” layaknya robot. Interaksi guru dan siswa menjadi “mekanistik” bagai mesin. Ironisnya adalah melahirkan agresivitas, kekerasan, serta pelecehan antara guru dan siswa.
Kondisi pendidikan yang demikian saat ini, mendorong kita untuk membangkitkan kembali jiwa atau ruh pendidikan pada hakikatnya yang tidak hanya berorientasi pada ilmu pengetahuan (knowledge oriented) dan ketrampilan (skill oriented), namun juga berorientasi pada nilai (values oriented). Sebagaimana bunyi Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 20. Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Proses pembelajaran yang menekankan pada nilai-nilai (spiritual keagamaan, azas manfaat, akhlaq mulia, dan lainnya) adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan, apalagi dielakkan. Dengan demikian, pendidikan harus memenuhi tiga unsur: pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Dimana di dalamnya sarat dengan nilai-nilai etik dan estetik dalam proses pembelajaran.


Pengetahuan ('ilmu / knowledge)

Proses untuk mendapat ilmu, hendaknya diniati untuk beribadah. Artinya, belajar-mengajar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur manusia sebagai seorang hamba kepada Tuhan yang telah mengaruniakan akal dan ilmu, yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.


Dimensi duniawi yang dimaksud adalah proses belajar-mengajar hendaknya mampu menghasilkan ilmu yang berupa kemampuan pada tiga ranah yang menjadi tujuan pendidikan/ pembelajaran, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik.


Adapun dimensi ukhrawi adalah hendaknya dapat diamalkan dan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kemaslahatan diri dan manusia. Buah ilmu adalah amal. Pengamalan serta pemanfaatan ilmu hendaknya dalam koridor keridhaan Sang Pencipta, yakni untuk mengembangkan dan melestarikan risalah Tuhan di dunia dan menghilangkan kebodohan, baik pada dirinya maupun orang lain. Inilah buah dari ilmu yang akan dapat menghantarkan kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat kelak.


Pengajaran (ta'lim / instruction)

Dalam hal ini guru berperan membersihkan, mengarahkan, dan mengiringi hati nurani siswa untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencari ridla-Nya. Dengan kata lain, ini adalah dimensi sufistik/akhlaq mulia. Peran kedua adalah peran pragmatik. Artinya, guru berperan menanamkan nilai-nilai pengetahuan dan keterampilan kepada siswanya.Hal ini bisa dicontohkan dengan diwajibkan dan dilarangnya suatu ilmu untuk dipelajari. Kalau tidak ada guru, siswa akan kebingungan. Selain itu, guru juga memilihkan ilmu mana yang harus didahulukan dan diakhirkan, beserta ukuran-ukuran yang harus ditempuh dalam mempelajarinya. Tidak hanya sebatas mentransfer materi pelajaran tanpa berkebiasaan merefleksikannya dalam kehidupan siswa.


Dalam konteks ini, para pakar pendidikan Islam mengatakan bahwa para guru harus memiliki perangai yang terpuji. Guru disyaratkan memiliki sifat wara’ (meninggalkan hal-hal yang terlarang), memiliki kompetensi (kemampuan) dibanding siswanya, dan berumur (lebih tua usianya). Di samping itu “kedewasaan” (baik ilmu maupun umur) seorang guru.


Para ilmuwan, sastrawan, dan filosof, memberikan nilai yang terhormat dan menempatkan posisi strategis bagi para pelaku pendidikan. Al-Ghazali misalnya berkata: “Siapa yang memperoleh ilmu pengetahuan dan ia mengambil daya-guna untuk kepentingan dirinya, kemudian mentransformasikan untuk orang lain, maka orang itu ibarat matahari yang bersinar untuk dirinya dan untuk orang lain”.


Pengasuhan yang baik (tarbiyah / education)


Unsur yang memegang peranan penting dalam pendidikan adalah anak didik atau siswa. Anak didik adalah manusia yang akan dibentuk oleh dunia pendidikan. Ia adalah objek sekaligus subjek, yang tanpa keberadaannya proses pendidikan mustahil berjalan.

Demikian pula guru memiliki peran sentral dalam transfer ilmu, kegagalan dan keberhasilan anak didik ada pada ketajaman analisa dan kepandaian seorang guru. Semakin kreatif seorang guru maka semakin bermutu pula anak didik yang dihasilkan, begitu juga sebaliknya.


Jadi pola hubungan atau relasi antara guru dan siswa tidak dapat terpisahkan, saling berkaitan, dan adanya timbal balik dalam rantai kehidupan. Ini menunjukkan bahwa titik tolak pemikiran pendidikan bermula dari pembicaraan tentang substansi dan esensi kehidupan. Oleh karena itu, pendidikan yang utama adalah berangkat dari hal-hal yang substansial, yakni masalah moral (akhlak mulia). Dengan kata lain, dari masalah yang substansi dan esensi ini akan melahirkan perform yang sejati dan memiliki kecakapan hidup untuk kehidupan.


Pola hubungan atau relasi antara guru dan siswa dapatlah diilustrasikan semacam “laboratorium” pembelajaran akhlak untuk relasi yang lebih besar. Relasi ini dijiwai oleh sifat-sifat sufi (akhlaq mulia) seperti tawadhu’, sabar, ikhlas, penuh pengertian, dan saling menghormati. Ketika siswa telah memiliki “pengalaman” relasi hidup sebagaimana dalam “laborat akhlak” maka yang akan muncul adalah pribadi-pribadi dengan bobot kualitas sebagaimana formulasi dalam laborat tersebut. Harapan yang akan terjadi adalah munculnya relasi yang sebenarnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan sikap sebagaimana disebut di atas, kehidupan akan harmonis karena tidak ada “dominasi”, intimidasi, kecongkakan, keserakahan, dan kemunafikan..


Perang, teror dalam berbagai bentuk, invasi, korupsi, kolusi, dan nepotisme adalah wujud dari dominasi agresif manusia atas manusia lain. Pola relasi yang tidak nyaman ini akibat dari teralienasinya masalah moral (akhlak), tidak lagi dijumpai relasi dan interaksi atas dasar keramahtamahan dan saling menghormati.


Dengan demikian ruh/jiwa pendidikan wujudnya adalah bernuansa sufistik (moral/akhlaq mulia) ridha, tawaddhu’, wara’, ikhlas, dan sabar sebagai kata kunci dalam proses pembelajaran. Konsep ini diimplementasikan dalam wilayah “mikro” sosial, sebagai “laboratorium”, yang bernama pendidikan.


Harapannya laboratorium tersebut dapat menjadi ujung tombak pelaksanaan nilai-nilai yang bernuansa etik dan estetik. Dari pendidikan yang bernilai etik dan estetik tersebut akan melahirkan aktor-aktor intelektual yang berwawasan dan bermoral. Pluralitas, inklusivitas, toleransi, dan sikap-sikap lain, akan menghiasi kehidupan mereka dalam sebuah desa buana (global village) yang penuh dengan keharmonisan dan ketenteraman.

07 September 2009

BINA UCAP AL QUR'AN DIGITAL

Al Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Di dalamnya berisi kalam Allah, kalimat atau perkataan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu ketika membacanyapun ada disiplin ilmunya tersendiri yang mengatur bagaimana membaca al Qur’an dengan benar sesuai apa yang dikalamkan Allah SWT.


Ilmu Tajwid merupakan pengetahuan yang mengajarkan bagaimana cara membaca al Qur’an dengan baik dan benar (fasih). Hal ini diatur karena ayat-ayat al Qur’an peka / sensitif terhadap arti atau maksud dari huruf per huruf ketika ayat-ayat tersebut dibaca, dan untuk menjaga kesucian dari al Qur’an itu sendiri supaya tidak terjadi perubahan makna sebab salah membaca.


Dalam ilmu tajwid diajarkan bagaimana cara melafadzkan tiap-tiap huruf hijaiyah secara detail, cara lidah mengeluarkan huruf dari makhrajnya, mengucapkan bunyi panjang dan pendek, berat atau ringan, berdesis atau tidak, tanda berhenti dan lain-lain. Jelasnya kalau dalam Bahasa Inggris sama halnya dengan Tata Ucap (pronounciation).


Saat ini banyak methode-methode yang membahas belajar cara membaca al Qur’an bertajwid dengan media buku yang digunakan TPQ, madrasah atau bahkan sekolah, seperti methode Iqra’, Qiroati, al Barqi, Bil Qolam, At Tartil dan lain-lain yang semuanya mengklaim methode praktis dan cepat. Memang methode ini lebih unggul kalau dibanding sebelum ditemukannya sekitar tahun 1990 an dalam hal belajar cara membaca al Qur’an.


Seiring dengan ICT semakin berkembang dan canggih yang bukan lagi barang asing bagi masyarakat dunia adalah “Bina Ucap al Qur’an Digital” solusinya. Sebuah media pembelajaran cara membaca al Qur’an yang dikemas dengan konsep berbasis ICT.


“Bina Ucap al Qur’an Digital” kalaulah boleh disebut merupakan hasil evolusi dari methode-methode yang ada sekarang ini. Sebab Bina Ucap al Qur’an Digital hanya merupakan visualisasi dan praktek dari methode-methode tersebut melalui media ICT (by internet atau handphone) yang bisa dilakukan secara interaktif, oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun (swalayan). Terlebih bagi mereka yang ingin belajar membaca al Qur’an disela-sela kesibukan kerja. Bahkan mungkin bagi mereka yang merasa malu bila ketidak bisaan baca al Qur’an diketahui orang lain, maka cukup dengan “Bina Ucap al Qur’an Digital” terlayani dengan sendirinya.


Usulan “Bina Ucap al Qur’an Digital” di dalamnya mencakup hampir seluruh materi Ilmu Tajwid, mulai dari makharijul huruf, sifatul huruf, ahkamul huruf dan seterusnya. Kesemua materi divisualisasikan secara animasi interaktif, juga disertai contoh praktek penerapannya di dalam al Qur’an.


Kiranya mungkin keberadaan “Bina Ucap al Qur’an Digital” juga membantu untuk pemberantasan buta huruf al Qur’an dan ternyata juga masih belum ada pencanangan dari pemerintah (Departemen agama) dalam masalah ini, padahal penduduk Indonesia mayoritas muslim.